Waah ini betul-betul minggu-minggu tersibuk....suumprriiit, i'm bloody swear it is true!
Bikin webblog buat tas, kantor yang di jejalin sama complain customer gara-gara Billing di XL yang kacau balau, baca buku Keseimbangan Matematika dalam Al-Qur'an (where logics and faith amazingly meet), menghayal, dan macem2 laah...huahahahaaa......
Ngomong2 soal Billing XL, ini mah udah ga kaget lagi! sebenernya sih ga kepengen ada masalah, tapi emang bener2 kelewatan itu... KARTU TERBLOKIR dengan ALASAN BELUM ADA PEMBAYARAN sejak Januari (kadang juga bilang Maret) padahal sekarang udah Mei dan April kemarin masih aktif! Anehnya, bila satu bulan saja belum di bayarkan, kartu akan terblokir! Weee lha, kok bisa di bilang belum bayar sementara udah jalan 4 bulan?
Yang paling lucu dan aneh bin ajaib bin langka bin janggal, TANDA TERIMA dari XL sejak Januari sudah ada di tangan! huahahahhaaaaa..... jeboool, Pakde! kacau, Bleh! Ebleh-ebleh!
Yaaaah..... udah gitu jadi males, mau komitmen sama pelanggan tapi kita juga ga dapat komitmen dari XL...kasian itu pelanggan, tapi kasian kita juga jadinya. Complain ga selesai2, di forward ke XL, XL nya ga kasih Solusi...
Mending mikirin yang lain aja la yaaw!
Kamis, Mei 08, 2008
Jumat, April 18, 2008
Chocolate Roll Cake Batik
Yaaah.... kalo laper tinggal liat foto ini... roll cake batik, ada yang mau? sekarang bukan cuma kain atau topeng yang bisa dibikin kerajinan, kue aja bisa... merknya HOPE, uenaak buangeeetzz! yummmiiyyyy.... ngiler-ngiler daaah!
Sebenernya kemarin itu kue pengen dianter, tapi yaa dasar pencinta coklat... foto dulu aaah.... ada yang mau? hubungin aja sayah yah...
Sabtu, April 12, 2008
Identitas

Kata Victor Hugo di novelnya, Les Miserables, gorong-gorong itu identitas peradaban manusia. Dari situ sejarah atas berbagai ciri, tindak-tanduk, sampe kondisi idealisme peradaban manusia bisa terbaca dan terlihat. Gorong-gorong ini biasa kita sebut got ya… soalnya kepanjangan dan kita nggak terbiasa sama istilah gorong-gorong dan spesifikasi serta klasifikasinya seperti apa untuk bisa di sebut demikian… got aja udah bagus!
Nah, kalo saya (berhubung di kamar nggak ada got, ada Septic Tank persis di depan kamar) kulkas aja lah yang jadi identitas… dalemnya kadang dingin, bikin dodol alias jenang jadi keras. Brownies panggang yang full chocolate jadi agak keras juga. Kadang juga karena saya matikan demi penghematan (untung belum jadi insentif dan disinsentif!), jadi di dalemnya panas. Cokelat jadi lembek bin jemek kayak lempung. Jeruk jadi keriput. Air segar buah semangka jadi habis kayak habis di kenyot vampire. Kadang waktu lagi nggak kepengen di matiin karena lagi nyimpen klepon, semar mendem, dan putu, malah mati lampu. Di bohongin saya sama janji Pilkada. Sukses lah itu penganan tradisional jadi basi. Yaah, akhirnya saya tempel-tempelin aja… temen saya yang lagi tandang ke kamar pada bereksperimen memaknai tempelan-tempelan itu…
Huahahaaaaaa ada yang bilang lagi patah hati, ada juga ngomong terlalu idealis, ada juga yang julukin kreatif sampe jorok, dan sampe ada yang komentar juga “isinya serame depannya nggak?”… Akhirnya kamuflase saya terbongkar! Maksud saya mau membuyarkan konsentrasi temen-temen dari isi di dalam kulkas, tapi akhirnya selalu aja ada yang tanya begitu! Hueheheheee….
Waah, betul-betul informasi nggak nyambung, bleh! Silahkan menikmati kulkas aja lah…
Nah, kalo saya (berhubung di kamar nggak ada got, ada Septic Tank persis di depan kamar) kulkas aja lah yang jadi identitas… dalemnya kadang dingin, bikin dodol alias jenang jadi keras. Brownies panggang yang full chocolate jadi agak keras juga. Kadang juga karena saya matikan demi penghematan (untung belum jadi insentif dan disinsentif!), jadi di dalemnya panas. Cokelat jadi lembek bin jemek kayak lempung. Jeruk jadi keriput. Air segar buah semangka jadi habis kayak habis di kenyot vampire. Kadang waktu lagi nggak kepengen di matiin karena lagi nyimpen klepon, semar mendem, dan putu, malah mati lampu. Di bohongin saya sama janji Pilkada. Sukses lah itu penganan tradisional jadi basi. Yaah, akhirnya saya tempel-tempelin aja… temen saya yang lagi tandang ke kamar pada bereksperimen memaknai tempelan-tempelan itu…
Huahahaaaaaa ada yang bilang lagi patah hati, ada juga ngomong terlalu idealis, ada juga yang julukin kreatif sampe jorok, dan sampe ada yang komentar juga “isinya serame depannya nggak?”… Akhirnya kamuflase saya terbongkar! Maksud saya mau membuyarkan konsentrasi temen-temen dari isi di dalam kulkas, tapi akhirnya selalu aja ada yang tanya begitu! Hueheheheee….
Waah, betul-betul informasi nggak nyambung, bleh! Silahkan menikmati kulkas aja lah…
Kamis, April 10, 2008
The Reds Will Never Walk Alone
Rasa kantuk memang tidak bisa saya hilangkan kemarin malam. Wajar saja, saya seharian kerja. Nggak wajar kalo saya adalah Bupati pamong masyarakat yang pasrah kalah sama ngantuk waktu Pak Presiden pidato. Kopi Lampung pemberian tetangga segera saya seduh. Saya membaca Kompas dengan harapan membaca itu biasanya mengusir kantuk yang saya alami. Jam 23.30 tepatnya ketika saya mendadak seperti semaput. Saya tertidur pulas dan alpa menyetel alarm. Tapi tiba-tiba BYAR!, saya terbangun pukul 02.10. Rasa-rasanya bila saat itu bukan Liverpool, barangkali saya akan ketiduran sampai terang. Kemungkinan besar, saya akan terlewat Subuh dan bahkan mungkin telat ngantor pula. Untunglah hukuman double urung saya dapatkan. Suporter Si Merah di kota The Beatles itu bagaikan mengembalikan roh saya untuk bangun. Woi, Ru bangun… They Should Never Walk Alone. Meskipun dua puluh tiga menit sudah pertandingan berjalan, saya bisa mengusir ngantuk. Hush…hush… Satu yang membuat saya langsung melek selain karena hobi saya adalah Sepak Bola, favorit saya itu tertinggal 0-1. Sialan itu Arsenal, mentang-mentang saya tidur. Beraninya itu Arsenal, mencuri waktu satpam lagi tidur. Hueheheheheeee…
Tapi jelas saja saya percaya The Reds bisa menguber defisit. Ini Eropa, Bung! Yaaah, ini pembelaaan diri saja alias defensif karena di panggung Premier League kesebelasan saya rada-rada memble kalo ketemu sesama tim Big Four. Kepercayaan saya itu terkabul. Yup, betul. Sami Hypia menyundul dan gol. 1-1. Keyakinan saya membuncah saat Fernando “El Nino” Torres menyarangkan gol kedua The Reds dengan cara yang sangat elegan dan spektakuler. Mirip teman saya, Arif, dulu waktu saya masih SD yang ingusan. Gooooool! Kopi Lampung yang sudah dingin tumplek blek di lantai terkena sontekan kaki saya yang reflek bergerak.
Tapi betul-betul, sepak bola itu bagaikan simbol dari pertunjukan teater yang berjudul kehidupan. Muram sekejap bisa jadi senang. Senang itu pun bisa mendadak surut. Untuk kembali lagi meraih senang itu, tidak lain hanyalah maju tak gentar dan pantang mundur alias suka maju. Bukan maju kena mundur kena. Itu kalo tabrakan di jalan sama wong cilik yang bila di pikir-pikir wong cilik itu lah yang salah. Bukan juga depan bisa belakang bisa. Itu gay.
Arsenal memang anak-anak muda "gila". Nggak mau tunduk gitu aja. Salut saya. Tinggal tujuh menit waktu normal, Si Nwanko Kanu baru, Adebayor, bikin gol! Tiga pemain depan Arsenal berhadapan frontal dengan Reina yang bak The Lone Ranger. Skor 2-2. Mendadak saya mau pingsan. Udah telat nonton, kopi tumpah, di tambah lagi rasa was-was Liverpool bakalan tersingkir. Tapi rasa pantang mundur itu memang pasti akan terbalas. Kalo mental Eropa Anfield Gank hanya berkualitas aspal jalan Ibu Kota, mereka akan langsung jatuh setelah gol Adebayor itu. Rasa nggak mau menyerah hanya karena satu hadangan akan berbalas air susu. Cuma khusus tadi malam, balasannya adalah hadiah penalti akibat Ryan Babel di jatuhkan di kotak 12 pas. Mengapa saya bilang mental The Reds bukan sekelas aspal? Dengan skor imbang 2-2 yang menyebabkan Liverpool harus melupakan semi final, menendang penalti adalah ujian berat. Jika saja mental Steven Gerard ecek-ecek, niscaya tidak akan Liverpool menang malam itu. So, jadilah Gerard di sayang oleh para pengawas ujian di stadion atau yang ada di rumah seperti saya. Nilainya A karena bola sukses membobol gawang Almunia. Lebih sempurna lagi, seolah membayar gol hadiah penalti, Babel mencetak satu gol indah lagi di injury time.
Saya girang gak kato’an. Saya guiraaaang setengah mampus. Liverpool ke semi final Liga Champions. Liverpool -seperti jalan yang di kasih dari Atas Sana- membangunkan saya dari kealpaan saya menyetel alarm dan saya bisa Subuhan. Terhindarlah saya dari hukuman. Memang betul, The Reds Will Never Walk Alone. Ah, bisa aja saya ini di sambung-sambungin.
Tapi jelas saja saya percaya The Reds bisa menguber defisit. Ini Eropa, Bung! Yaaah, ini pembelaaan diri saja alias defensif karena di panggung Premier League kesebelasan saya rada-rada memble kalo ketemu sesama tim Big Four. Kepercayaan saya itu terkabul. Yup, betul. Sami Hypia menyundul dan gol. 1-1. Keyakinan saya membuncah saat Fernando “El Nino” Torres menyarangkan gol kedua The Reds dengan cara yang sangat elegan dan spektakuler. Mirip teman saya, Arif, dulu waktu saya masih SD yang ingusan. Gooooool! Kopi Lampung yang sudah dingin tumplek blek di lantai terkena sontekan kaki saya yang reflek bergerak.
Tapi betul-betul, sepak bola itu bagaikan simbol dari pertunjukan teater yang berjudul kehidupan. Muram sekejap bisa jadi senang. Senang itu pun bisa mendadak surut. Untuk kembali lagi meraih senang itu, tidak lain hanyalah maju tak gentar dan pantang mundur alias suka maju. Bukan maju kena mundur kena. Itu kalo tabrakan di jalan sama wong cilik yang bila di pikir-pikir wong cilik itu lah yang salah. Bukan juga depan bisa belakang bisa. Itu gay.
Arsenal memang anak-anak muda "gila". Nggak mau tunduk gitu aja. Salut saya. Tinggal tujuh menit waktu normal, Si Nwanko Kanu baru, Adebayor, bikin gol! Tiga pemain depan Arsenal berhadapan frontal dengan Reina yang bak The Lone Ranger. Skor 2-2. Mendadak saya mau pingsan. Udah telat nonton, kopi tumpah, di tambah lagi rasa was-was Liverpool bakalan tersingkir. Tapi rasa pantang mundur itu memang pasti akan terbalas. Kalo mental Eropa Anfield Gank hanya berkualitas aspal jalan Ibu Kota, mereka akan langsung jatuh setelah gol Adebayor itu. Rasa nggak mau menyerah hanya karena satu hadangan akan berbalas air susu. Cuma khusus tadi malam, balasannya adalah hadiah penalti akibat Ryan Babel di jatuhkan di kotak 12 pas. Mengapa saya bilang mental The Reds bukan sekelas aspal? Dengan skor imbang 2-2 yang menyebabkan Liverpool harus melupakan semi final, menendang penalti adalah ujian berat. Jika saja mental Steven Gerard ecek-ecek, niscaya tidak akan Liverpool menang malam itu. So, jadilah Gerard di sayang oleh para pengawas ujian di stadion atau yang ada di rumah seperti saya. Nilainya A karena bola sukses membobol gawang Almunia. Lebih sempurna lagi, seolah membayar gol hadiah penalti, Babel mencetak satu gol indah lagi di injury time.
Saya girang gak kato’an. Saya guiraaaang setengah mampus. Liverpool ke semi final Liga Champions. Liverpool -seperti jalan yang di kasih dari Atas Sana- membangunkan saya dari kealpaan saya menyetel alarm dan saya bisa Subuhan. Terhindarlah saya dari hukuman. Memang betul, The Reds Will Never Walk Alone. Ah, bisa aja saya ini di sambung-sambungin.
Langganan:
Postingan (Atom)

